Twitter Akui Kesalahan Sebar Data Pengguna ke Pengiklan

Liputan6.com, Jakarta – Beberapa waktu lalu, Twitter mengakui pihaknya tidak sengaja menggunakan data pengguna tanpa izin untuk iklan tertarget. Hal ini terjadi karena adanya masalah dalam menu pengaturan di situs microblogging tersebut.

Dikutip dari Reuters, Senin (12/8/2019), Twitter mengaku masalah tersebut ditemukan pekan lalu dan sudah diatasi. Sayangnya, perusahaan yang dipimpin Jack Dorsey itu tidak mengungkap lebih lanjut pengguna yang terdampak masalah ini.

Dalam keterangan resmi yang diterima Tekno Liputan6.com, Senin (12/8/2019), Twitter memang mengakui adanya isu ini dan memiliki dua dampak bagi pengguna.

Menurut Twiter, pengguna yang memakai aplikasi seluler sejak Mei 201 dan mengklik iklan, ada kemungkinan datanya dibagi dengan pengiklan.

Adapun data itu termasuk kode negara, interaksi dengan iklan, atau informasi tentang iklan tersebut. Dalam hal ini, pengguna memang tidak memberikan izin pada Twitter alias dilakukan secara diam-diam.

Twitter juga mengaku ada kemungkinan pihaknya mengetahui model perangkat yang digunakan untuk mengakses layanannya, meski tidak diberi izin oleh pengguna.

Namun, data itu tidak mengandung informasi, seperti kata sandi, akun email, dan informasi lain.

Twitter pun meminta maaf atas masalah ini dan akan mengambil langkah untuk memastikan kesalahan serupa tidak akan terulang lagi.

Sebagai tidak lanjut masalah ini, Twitter menyarankan pengguna memeriksa pengaturan akun untuk mengetahui pemberian izin terkait iklan di layanan tersebut.

2 dari 3 halaman

Saham Twitter Naik 10 Persen

Ilustrasi Twitter (Foto: Pixabay)

Terlepas dari masalah tersebut, Twitter mencatatkan peningkatan pendapatan pada kuartal kedua 2019. Perubahan desain, yang menarik lebih banyak pengguna dan pengiklan, telah berkontribusi pada peningkatan pendapatan tersebut.

Hasilnya, saham jejaring sosial berbasis mikroblog itu naik sepuluh persen. Demikian dikutip dari Reuters, Selasa (30/7/2019).

CEO Twitter Jack Dorsey mengatakan laporan spam dan perilaku mencurigakan di Twitter menurun sebanyak 18 persen.

Ini menunjukkan tren positif sejak perusahaan berfokus untuk menghapus jutaan spam dan akun palsu yang mempromosikan ujaran kebencian, disinformasi dan hoaks yang sempat membuat perusahaan kehilangan pengguna aktif bulanan secara signifikan pada tahun 2018 silam.

Alih-alih melaporkan pengguna aktif bulanan pada kuartal kedua 2019, Twitter malah melaporkan pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi.

Metrik itu mengukur pengguna yang setiap hari terekspos iklan di Twitter. Namun, kekurangan metrik ini adalah pengguna yang mengakses Twitter melalui pihak ketiga seperti TweetDeck, tidak terukur. 

3 dari 3 halaman

Pendapatan Iklan Naik Menjadi USD 727 Juta

Ilustrasi Twitter (Liputan6.com/Sangaji)

Disebutkan, pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi ini mencapai 139 juta. Angka tersebut melampaui prediksi analis, yakni 135 juta.

“Pertumbuhan kuat dalam pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi menunjukkan bahwa pengguna Twitter tetap menggunakan platform ini, dan itu harus beresonansi dengan pengiklan,” kata analis senior eMarketer Jasmine Enberg.

Dorsey menyebut perbaikan machine learning untuk menyajikan konten lebih relevan berkontribusi pada kenaikan ini.

“Saat ini kami melihat setiap masalah dengan pendekatan teknologi terlebih dahulu dan itu merupakan perubahan cukup mencolok di dalam perusahaan,” ujar Dorsey.

Adapun pendapatan Twitter naik 18% dari tahun sebelumnya menjadi USD 841 juta. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan Wall Street, yakni USD 829 juta.

Sementara itu, pendapatan iklan naik menjadi USD 727 juta, meningkat 21% YoY. 

(Dam/Ysl)