Studi: Robot Ambil Alih 20 Juta Pekerjaan Pada Tahun 2030

Liputan6.com, Jakarta – Pernah berpikir suatu saat dunia kerja dikuasai oleh robot? Bisa jadi, kekhawatiran itu akan jadi kenyataan sebentar lagi.

Pasalnya, baru-baru ini ekonom mengklaim kalau di tahun 2030, sekitar 20 juta pekerjaan akan diambil alih oleh robot.

Dilansir dari CNBC, Jumat (28/6/2019), studi terbaru dari Oxford Economics menyatakan, 11 tahun lagi akan ada 14 juta robot yang dipekerjakan di Tiongkok.

Pada tahun 2030 nanti, lebih dari 1,5 juta pekerjaan di Amerika Serikat (AS) akan digantikan robot, sedangkan di negara-negara Uni Eropa sekitar jumlahnya 2 juta.

Ekonom menganalisa tren jangka panjang di dunia kerja dan menemukan fakta bahwa dua dekade ke belakang, tingkat penggunaan robot naik hingga 2,25 juta unit.

2 dari 3 halaman

Ekonomi Dunia Berpotensi Naik 5,3 Persen Pada 2030

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi dunia (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Jika proses pemasangan unit robot dinaikkan hingga 30 persen, maka GDP tahun 2030 juga akan meningkat hingga 5,3 persen.

“Ini sama saja dengan meningkatkan USD 4,9 triliun per tahun untuk ekonomi global pada 2030 nanti,” demikian tertulis di laporan hasil studi.

Sementara, dipekerjakannya robot diprediksi akan mengurangi beban produksi, menambah efisiensi dan meningkatkan produktivitas serta pertumbuhan ekonomi, namun tetap ada dampak buruk yang harus diterima.

“Sebagai hasil dari robotisasi (istilah untuk dominasi robot di berbagai aspek kehidupan), jutaan pekerjaan akan hilang, terutama di bagian yang tidak membutuhkan skill khusus. Ketimpangan pendapatan akan semakin meningkat,” jelas salah satu peneliti.

Studi tersebut juga menunjukkan, jumlah robot yang dipasang di tempat kerja dalam 4 tahun terakhir adalah sama dengan jumlah yang digunakan selama 8 tahun sebelumnya, meningkat 2 kali lipat.

3 dari 3 halaman

Jangan Ada UU Pelarangan Otomatisasi

Ilustrasi Robot (iStockPhoto)

Meski ada ancaman hilangnya pekerjaan, para ekonom menyarankan pemerintah untuk tidak membuat undang-undang pelarangan otomatisasi.

“Pembuat kebijakan dan stakeholder lainnya tidak boleh frustasi dengan adopsi teknologi robot. Tantangan yang harus dipikirkan adalah bagaimana manusia bisa mendistribusikan unit robot secara rata untuk membantu para pekerja supaya pekerjaan lebih efektif dan efisien,” tulis laporan tersebut.

Disarankan juga untuk memberikan insentif bagi para perusahaan dan pekerja. Selain itu, program yang mendidik pekerja agar berpikiran maju juga perlu dikembangkan untuk menangkal dampak negatif dari otomatisasi.

Pekerja juga disarankan untuk mengaudit pekerjaan mereka sendiri untuk lebih memahami keseimbangan antara keterampilan manusia yang dibutuhkan dan keterampilan yang berpotensi diambil alih oleh mesin.

(Tik/Ysl)