Mastel: Operator Sebaiknya Optimalkan Masa Uji Coba MRT Jakarta

Liputan6.com, Jakarta – Guna melihat pola trafik komunikasi di sepanjang rute mass rapid transit (MRT) Jakarta, operator seluler disarankan untuk mengoptimalkan masa uji coba yang disediakan mitra penyedia sarana telekomunikasi pasif PT MRT Jakarta.

“Mitra penyedia sarana telekomunikasi MRT Jakarta memberikan kesempatan kepada semua operator seluler untuk melakukan uji coba gratis di rute moda transportasi itu. Mereka sebaiknya memanfaatkan masa uji coba untuk bisa melayani pelanggannya,” kata Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono di Jakarta, Rabu (28/3/2019).

Buka itu saja, lanjut Kristiono, para operator seluler bahkan dapat mengevaluasi pola trafik di stasiun bawah, di atas tanah, atau selama MRT melewati tunnel. Juga memudahkan mereka dalam mengetahui kebutuhan pelanggan sehingga lebih gampang dalam menghitung cost benefit.

“Langkah uji coba bisa dilakukan secara paralel dengan negosiasi bisnis bersama penyedia sarana telekomunikasi pasif, sehingga lebih efisien dan tepat waktu kala masa komersial,” tuturnya.

Sementara Pelaksana Dewan TIK Nasional Garuda Sugardo mengingatkan ketersediaan layanan seluler di sepanjang rute MRT adalah sesuatu yang vital dan wajib dihadirkan operator seluler.

“Semua operator ada baiknya menyediakan layanan di sepanjang MRT Jakarta. Jangan berharap terjadi migrasi pelanggan karena ada blankspot di ruas perjalanan sepanjang MRT Jakarta yang hanya butuh waktu tempuh 40 menit,” katanya.

Menurutnya, ketersediaan layanan seluler tak hanya masalah memenuhi hasrat berkomunikasi pengguna, tetapi juga untuk antisipasi jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan, misalnya krisis kala MRT berada di dalam terowongan.

Serupa dengan pendapat Sugardo, Sekjen Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB) M Ridwan mengakui penyediaan jaringan seluler di rute MRT adalah hal yang penting agar masyarakat merasa aman dan nyaman.

Ridwan menilai, banyaknya operator yang terkesan menunggu untuk masuk ke rute MRT Jakarta, kemungkinan besar bukan hanya masalah harga sewa, namun belum bisa memprediksi trafik yang akan didapat.

“Saya melihat ini adalah dampak dari operator yang selama ini perang tarif sehingga dana untuk reinvestasi di jaringan yang masuk segmen baru, membuat keputusannya agak lama. Ini mirip dengan menggarap area rural, di mana saling menunggu. Kecuali yang memang punya investasi besar, sehingga menganggapnya sebagai layanan utama,” ulasnya.