Ini Tiga Jenis Tindak Kecurangan yang Marak di Platform Grab

Liputan6.com, Jakarta – Tindak kecurangan atau fraud kini tak hanya terjadi pada bisnis tradisional saja, tetapi praktik itu juga marak menyasar platform digital yang banyak dipakai pengguna.

Salah satunya adalah kecurangan pada aplikasi ride hailing seperti Grab. Head of User Trust Grab, Wui Ngiap Foo, mengatakan, dua pertiga dari pengemudi Grab mengetahui pengemudi lain melakuan kecurangan. Sementara, 80 persen pengemudi Grab, seminggu sekali mendapatkan order palsu.

Nah, bagi Grab sendiri ada tiga jenis kecurangan atau fraud yang sering terjadi pada aplikasinya.

“Pertama adalah fake GPS, kedua pemalsuan atau modifikasi aplikasi, dan yang ketiga adalah transaksi palsu yang bertujuan untuk mencurangi insentif,” kata Wui Ngiap Foo di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Fake GPS atau GPS palsu adalah upaya penggunaan alat GPS palsu dan telepon yang dimodifikasi untuk memalsukan perilaku mengemudi dan menyelesaikan perjalanan untuk memainkan sistem.

Selanjutnya adalah transaksi palsu demi mendapatkan insentif dari pihak Grab.

Di sini, si penipu menyiapkan beberapa telepon dan akun, kemudian berpura-pura melakukan banyak perjalanan yang dibayar secara tunai. Tujuannya adalah untuk mendapatkan manfaat dari pembayaran bonus setelah berhasil mencapai status dapat insentif.

Ketiga adalah aplikasi palsu, di mana aplikasi Grab telah dirusak atau dimodifikasi atau mengunduh aplikasi ilegal di luar Google Play atau Apple Store resmi.

Lebih lanjut, diungkapkan oleh Presiden Grab Indonesi, Ridzki Kramadibrata, kecurangan yang ada di aplikasi Grab sebenarnya cukup banyak macamnya, namun yang paling banyak adalah ketiga hal di atas.

“Kami enggak ada detailnya, cuma itu adalah tiga terbesar, kalau disebutkan 20 kan bingung juga. Itu tiga paling utama yang biasa terjadi di platform Grab,” tutur Ridzki.