Hadapi AS, Huawei Bakal Siapkan Pasukan Besi

Liputan6.com, Jakarta – Pendiri Huawei, Ren Zhengfei, berencana mulai merombak perusahaan dalam waktu tiga hingga lima tahun.

Perombakan ini bertujuan untuk menciptakan “pasukan besi”, yang dapat membantu perusahaan bertahan dari “serangan” Amerika Serikat (AS), sambil melindungi kepemimpinan Huawei dalam pengembangan teknologi wireless terbaru.

Dilansir Bloomberg, Rabu (14/8/2019), perubahan struktural ini berkaitan dengan sanksi AS yang mengancam kelangsungan bisnis smartphone Huawei.

AS sebelumnya memasukkan Huawei dalam daftar hitam perdagangan, sehingga tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan asal negara tersebut.

Memo internal berisi rencana Zhengfei ini dilihat oleh Bloomberg News, dan sudah dikonfirmasi oleh juru bicara Huawei.

Huawei kini tengah berjuang setelah AS melarang perusahaan membeli teknologi negaranya, termasuk komponen penting chipset dari Qualcomm, hingga OS Android milik Google.

Ren mengatakan, pembenahan internal saat ini perlu dilakukan untuk menghadapi “perang”. Namun, ia tidak merinci restrukturisasi yang dimaksud.

“Kita harus menyelesaikan perombakan dalam kondisi keras dan sulit, menciptakan ‘tentara besi’ tak terkalahkan, yang dapat membantu kita mencapai kemenangan. Kita benar-benar harus menyelesaikan reorganisasi ini dalam waktu tiga hingga lima tahun,” tulis Zhengfei dalam memo internal pada 2 Agutus 2019.

2 dari 2 halaman

Bisnis Terhambat

Salah satu toko resmi Huawei di Beijing, China (AP/Mark Schiefelbein)

Permasalahan Huawei dengan pemerintah AS telah menghambat pertumbuhan bisnis perusahaan. Pertumbuhan penjualan Huawei dilaporkan melambat pada kuartal II 2019, dibandingkan sebelumnya. Pada periode tersebut, kebijakan AS mulai berpengaruh, terutama pada bisnis konsumen yang mencakup smartphone dan laptop.

Huawei sendiri telah mengumumkan OS buatannya, HarmonyOS, pada pekan lalu. OS ini disebut bisa menggantikan Android jika software tersebut dilarang digunakan pada smartphone Huawei di masa depan.

“Dua peluru menembaki kelompok bisnis konsumen kita, sayangnya itu menabrak┬átangki-tangki minyak,” tulis Zhengfei, yang juga merupakan CEO Huawei. Namun, ia tidak merinci maksud dari pengibaratan “dua peluru” dan “tangki minyak” tersebut.

Ren mengatakan, perusahaan membutuhkan lebih banyak waktu untuk membangun ekosistem aplikasi. Hal ini merupakan persyaratan utama agar software bisa berkembang dalam jangka panjang.

Di tengah serangan AS, Zhengfei menyinggung tentang keunggulan Huawei dibandingkan AS terkait teknologi telekomunikasi generasi kelima (5G).

Dominasi Huawei di area 5G disebut sebagai motivasi AS untuk mengendalikan perusahaan, karena teknologi tersebut diprediksi dapat mendorong ekonomi modern di masa depan. “AS tidak menggunakan teknologi 5G paling canggih. Itu mungkin membuatnya tertinggal di sektor artificial intelligence (AI),” ungkap Zhengfei.

(Din/Isk)