Google Kian Serius Garap Bisnis Chip Mandiri

Liputan6.com, Jakarta – Google dilaporkan bakal kian serius untuk memperluas pengembangan chip sendiri untuk produk besutannya, seperti smartphone.

Hal ini diketahui dari laporan Reuters yang menyebut perusahan sudah menyiapkan tim khusus untuk mengembangkan produk tersebut.

Dikutip dari The Verge, Rabu (13/2/2019), tim khusus ini akan ditempatkan di Bengaluru, India.

Tim baru ini terdiri dari 16 insinyur dan empat perekrut. Tim diperkirakan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Berdasarkan laporan itu, kebanyakan rekrutan terbaru untuk tim ini berasal dari Intel, Nvidia, dan Qualcomm.

Langkah ini disebut sebagai upaya Google untuk mengurangi ketergantungan dengan pelaku bisnis chip tradisional.

Kendati demikian, hingga sekarang Google belum memberikan komentar terkait laporan ini.

Google sendiri sebenarnya tidak asing dengan produksi chip mandiri, raksasa internet itu membuat chip untuk kamera Pixel hingga keperluan data center.

Selain Google, nama besar lain seperti Apple dan Microsoft sebenarnya sudah cukup lama mengembangkan chip secara mandiri. Kondisi ini jelas membuat pemain besar, seperti Intel dan Qualcomm mulai terancam.

Bahkan khusus untuk Apple, hubungan perusahaan pembesut iPhone itu sebenarnya sedang buruk dengan Qualcomm. Keduanya saling melayangkan gugatan hukum yang masih terkait dengan bisnis chip.

2 dari 3 halaman

Google Besut Aplikasi Khusus untuk Tunarungu

Logo Google Apps di Resto de Kendhil saat acara Kampanye #SelaluTauyangSeru #SelaluTauJog, Yogyakarta, Senin (14/11/2016). (Liputan6.com/Dhita Koesno)

Terlepas dari kabar itu, Google baru saja merilis dua aplikasi Android Live Transcribe dan Sound Amplifier.

Keduanya dikembangkan untuk memudahkan para pengguna yang mengalami gangguan pendengaran untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Dilansir dari Digital Trends pada Kamis (7/2/2019), Live Transcribe menggunakan teknologi Google Speech’s Recognition untuk menerjemahkan suara ke teks secara real-time.

Desain aplikasi ini cukup sederhana dengan latar belakang polos. Pengguna dapat memilih untuk mengaktifkan tema gelap atau tidak.

Ketika dijalankan, aplikasi besutan Google ini langsung menyalin jika ada suara yang terdeteksi. Terdapat lebih dari 70 bahasa dan dialek yang dapat terdeteksi aplikasi ini, salah satunya Bahasa Indonesia dan Jawa.

Keuntungan aplikasi ini juga dapat memudahkan orang tunarungu untuk berkomunikasi apabila tidak ada penerjemah bahasa isyarat di sekitarnya.

Selain itu, ada indikator volume di sudut atas yang memungkinkan pengguna dapat mengetahui apakah mereka berada di lingkungan yang bising sehingga perlu berbicara lebih keras lagi.

3 dari 3 halaman

Sound Amplifier

Booth Google bertema Google Assistant (Foto: Twitter/ @google)

Untuk memudahkan lagi, ditambah fitur keyboard untuk menulis jika pengguna kesulitan berbicara.

Aplikasi yang kedua, Sound Amplifier dapat digunakan sebagai alat bantu dengar dengan meredam noise yang ada di sekitar.

Menggunakan aplikasi ini dengan headphone, juga memungkinkan pengguna hanya mendengar suara yang perlu mereka dengar.

Adapun akses early aplikasi Live Transcribe kini tersedia di Play Store, untuk full version masih tersedia secara terbatas.

Sementara, Sound Amplifier hanya tersedia pada perangkat Android 9.0 Pie ke atas saat ini.

Google pun mengungkap kedua aplikasi ini akan hadir lebih dulu di smartphone Pixel ke depannya.

(Dam/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: