Fenomena Equinox Kembali Terjadi, Ini Penjelasannya

Liputan6.com, Jakarta – Sama seperti tahun sebelumnya, peristiwa Equinox kembali terjadi di tahun ini. Namun sedikit berbeda, Equinox yang terjadi di bulan Maret biasanya dikenal sebagai Vernal Equinox atau Equinox musim.

Penamaan itu tidak lepas karena peristiwa Equinox yang jatuh pada Maret biasanya menjadi penanda datangnya musim semi di belahan utara khatulistiwa, sedangkan belahan selatan khatulistiwa memasuki musim gugur.

Dikutip dari Express, Kamis (21/3/2019), Vernal Equinox merupakan pergerakan Matahari (dari sudut pandang Bumi) yang berada tepat di atas titik ekuator. Pergerakan itu terjadi dari selatan ke utara.

Dengan demikian, wilayah utara Bumi akan merasakan terbitnya Matahari yang lebih awal, tetapi terbenam lebih belakangan.

Berbanding terbalik, wilayah selatan Bumi, akan mengalami terbitnya Matahari lebih belakangan, tapi terbenam lebih cepat.

Perlu diketahui, peristiwa Equinox pada Maret tahun ini terjadi pada 20 Maret 2019 pukul 21:58 UTC. Jika diubah ke waktu Indonesia, peristiwa itu berarti terjadi pada 21 Maret 2019 pukul 04.58 WIB.

Nama Equinox sendiri berasal dari bahasa Latin, yakni aequus (sama) dan nox (malam). Jadi, saat peristiwa Equinox biasanya seluruh belahan Bumi akan merasakan malam dan siang yang sama panjang, yakni 12 jam.

Peristiwa Equinox Maret ini juga terasa unik karena bersamaan dengan Super Moon di wilayah bumi bagian utara. Bagi Bumi belahan utara, peristiwa semacam ini terakhir terjadi pada tahun 2000.

Menurut situs EarthSky.org, peristiwa langka ini akan baru akan terulang lagi pada 2030. Adapun peristiwa Super Moon ini akan menjadi yang terakhir sepanjang 2019.