Federasi Esports Indonesia Terbentuk, Siap Bawa Ekosistem Berkembang

Liputan6.com, Jakarta – Industri esports di Indonesia tak dimungkiri sedang berkembang pesat dan cepat. Namun, para pelaku di dalamnya ternyata belum benar-benar dapat menikmati esports sebagai sebuah industri yang matang.

Oleh sebab itu, sejumlah pelaku esports di Indonesia menggagas lembaga independen yang bernama Federasi Esports Indonesia (FEI). Federasi ini menaungi seluruh ekosistem esports baik tim, pemain, caster, event organizer, termasuk publisher gim.

“Sebagai pendatang baru, saya sempat bingung karena esports tidak ada haluan dan pakemnya. Padahal, industrinya berjalan begitu kencang dan cahayanya begitu terang,” tutur Presiden FEI, Giring Ganesha, saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Oleh sebab itu, ada 10 pelaku esports yang kemudian membuat federasi yang terbuka bagi seluruh ekosistem. Harapannya, menurut Giring, federasi ini menjawab persoalan yang ditemui pelaku esports di Indonesia.

“Jadi, FEI dapat menjadi badan yang menaungi semua pihak dan menjadi tempat para pelakunya mengadu, baik caster, media, pemain, tim esports, event organizer, MC,” tutur Giring melanjutkan.

Lebih lanjut Giring mengatakan, FEI sekaligus merupakan upaya agar ekosistem esports itu makin inklusif. Sebab, para pelaku di industri ini sebenarnya saling membutuhkan, sehingga diperlukan wadah yang dapat memberikan solusi atas masalah yang mungkin terjadi.

“Jangan sampai esports menjadi industri yang mengalami efek bubbles (gelembung ekonomi),” ujarnya lebih lanjut. Karenanya, federasi ini dibentuk untuk membawa ekosistem ke tingkat yang lebih tinggi.

Kehadiran FEI juga diapresiasi oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia. Ketua Pokja Esports KONI, Liliana Sugiharto berharap FEI dapat mendorong ekosistem esports yang berkelanjutan. 

2 dari 2 halaman

Rencana FEI

Federasi Esports Indonesia (Liputan6.com/Agustinus M.Damar)

Salah satu fokus FEI sendiri adalah membuat sebuah standar untuk kompetisi termasuk penyelenggarannya. Tidak hanya itu, persoalan lain yang menjadi perhatian adalah penataan soal kontrak para pemain esports profesional.

Adrian Paulin sebagai CEO RRQ dan salah satu founder dari FEI mengatakan salah satu hal yang sudah lumrah terjadi di ekosistem esports Indonesia adalah pouching. Padahal, aksi tersebut sebenarnya tidak bisa dilakukan.

Pouching sudah terbentuk sebagai hal lumrah, tapi kalau seperti itu terus, industrinya tidak akan kemana-mana. Jadi, founder FEI yang ada saat ini membuat komitmen ke diri sendiri agar tidak melakukan hal dan bisa menjadi contoh bagi orang lain,” tuturnya.

FEI, menurut pria yang akrab dipanggil AP tersebut, juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas esports di Indonesia. Namun, tidak sekadar untuk pemilik tim atau pemain, melainkan juga event organizer, influencer, hingga staf yang paling kecil.

“Bagi saya, FEI diharapkan bisa punya banyak manfaat. Harapan besar untuk FEI, sehingga orang-orang dan pelaku yang ada di dalam esports bisa menjadi sejahtera dan FEI bisa menjaga marwahnya,” ujar Adrian.

(Dam/Ysl)