Apple Gelar Acara 25 Maret, Bakal Umumkan Apa?

Liputan6.com, Jakarta – Apple dilaporkan akan menggelar sebuah event dalam waktu dekat, tepatnya 25 Maret 2019. Menurut laporan Buzzfeed, dalam acara ini Apple akan memperkenalkan produk terbaru.

Namun dikutip dari The Verge, Kamis (14/2/2019), produk anyar ini bukan sebuah hardware, seperti iPad atau iPod, melainkan layanan berlangganan. Hal ini berbeda dari kebiasaan Apple yang kerap memperkenalkan iPad baru dalam ajang yang digelar pada bulan Maret.

Berdasarkan informasi yang beredar, layanan berlangganan yang diperkenalkan perusahaan adalah merupakan Apple News. Sesuai namanya, layanan ini merupakan layanan yang disediakan Apple sebagai platform membaca berita.

Perusahaan yang dipimipin Tim Cook itu disebut akan menawarkan akses berlangganan bulanan untuk membaca majalah atau berita. Secara garis besar, platform ini mirip dengan Apple Music, tapi menyajikan berita berbayar.

Kehadiran layanan ini sebenarnya sempat terdengar beberapa waktu lalu. Ketika itu, The Wall Street Journal yang melaporkan Apple sempat bersitegang dengan sejumlah penerbit terkait pembagian pendapatan dari layanan ini.

Apple disebut meminta bagian 50 persen dari pemasukan, sebelum dibagi ke penerbit berdasarkan jumlah artikel yang dibaca. Kabarnya, biaya berlangganan layanan ini adalah US$ 10, meski belum dapat dipastikan.

Layanan semacam Apple News, Apple Music, dan layanan TV yang sedang dipersiapkan, memang menjadi cara Apple untuk mendapatkan pemasukan di luar bisnis hardware. Kondisi ini didukung pula dengan penjualan iPhone yang terus mengalami penurunan.

2 dari 3 halaman

Sempat Turun Pamor, Apple Kembali Jadi Perusahaan Paling Berharga

Ilustrasi: Selain menjadi toko ritel pertama di Asia Tenggara, Apple Store ini juga menjadi toko pertama yang sepenuhnya menggunakan energi terbarukan (sumber : bgr.com)

Terlepas dari rencana ini, Apple kembali menjadi perusahaan paling berharga di dunia. Perusahaan berhasil melampaui Microsoft dan Amazon pada Rabu (6/2/2019), dengan kapitalisasi pasar US$ 821,59 miliar.

Dilansir CNBC, Senin (11/2/2019), Apple, Microsoft, dan Amazon bersaing di posisi tiga besar selama setahun terakhir. Microsoft pada Rabu lalu mengakhiri hari dengan kapitalisasi pasar US$ 813,48 miliar dan Amazon US$ 805,70 miliar.

Microsoft pada akhir 2018 menjadi perusahaan paling berharga, sebelum akhirnya dilengserkan oleh Amazon pada awal tahun ini. Namun, Apple kembali merebut tahta sebagai perusahaan paling berharga di dunia per Rabu lalu.

Apple sebelumnya mengalami kerugian pada awal Januari setelah memperingatkan investor tentang melemahnya pendapatan pada kuartal pertama 2019.

Dalam tiga bulan menjelang wanti-wanti tersebut, investor sudah mengantisipasi penurunan pendapatan dan kapitalisasi Apple turun US$ 452 miliar.

Peringatan Apple tersebut membuat ekspektasi begitu efektif, sehingga laporan pendapatan kuartal I tahun fiskal 2019 (Oktober – Desember) perusahaan diterima dengan baik.

Saham perusahaan melonjak hampir tujuh persen sehari setelah Apple menyampaikannya. Perusahaan membukukan margin layanan yang kuat, meski pendapatan iPhone turun 15 persen.

3 dari 3 halaman

Apple Bakal Tempatkan Data Pengguna Rusia di Server Lokal

Tim Cook, CEO Apple saat berkunjung ke Apple Store 3 November 2017 di Palo Alto, California. (Doc: Gettyimage)

Apple sebelumnya dilaporkan akan mengikuti peraturan di Rusia, yakni memindahkan data pengguna domestik ke server lokal di negara tersebut. Peraturan yang dimaksud adalah Undang-Undang kontraterorisme yang mulai berlaku pada tahun lalu.

Berdasarkan Undang-Undang kontraterorisme Rusia itu, para penyedia layanan telekomunikasi harus menyimpan konten komunikasi pengguna, termasuk teks, video, dan pesan audio, hingga enam bulan.

Peraturan tersebut dapat memaksa Apple untuk mendekripsi dan menyerahan data pengguna ke layanan keamanan berdasarkan permintaan.

Badan eksekutif media dan telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor, mengonfirmasi Apple memutuskan untuk mematuhi hukum dan menyimpan data pengguna di server lokal. Namun, sampai saat ini pihak Apple belum memberikan konfirmasi.

Di sisi lain, ada banyak pertanyaan mengenai jenis informasi yang akan disimpan di server Rusia. Namun menurut sumber, informasi tersebut kemungkinan mencakup nama, alamat, alamat email, dan nomor ponsel.

Selain itu, konten di backup iCloud, mencakup foto, video, dokumen, kontak, dan pesan, kemungkinan akan bisa diakses oleh pemerintah Rusia.

Ini bukan kali pertama Apple menyimpan data pengguna di server lokal. Tahun lalu, Apple mengambil keputusan serupa di Tiongkok, yang mewajibkan perusahaan harus menyimpan data pengguna di server lokal.

(Dam/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: